<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mahfuzoh&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://mahfuzoh.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mahfuzoh.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 19 Apr 2010 07:50:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mahfuzoh.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mahfuzoh&#039;s Blog</title>
		<link>http://mahfuzoh.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mahfuzoh.wordpress.com/osd.xml" title="Mahfuzoh&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mahfuzoh.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Suku Betawi adalah Suku daku loh&#8230;.!!!!</title>
		<link>http://mahfuzoh.wordpress.com/2010/04/19/suku-betawi-adalah-suku-daku-loh/</link>
		<comments>http://mahfuzoh.wordpress.com/2010/04/19/suku-betawi-adalah-suku-daku-loh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 07:50:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mahfuzoh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahfuzoh.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Suku Betawi Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mahfuzoh.wordpress.com&amp;blog=13208429&amp;post=3&amp;subd=mahfuzoh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Suku Betawi</h1>
<p>Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh <a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a> ke <a title="Batavia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batavia">Batavia</a>. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a>, seperti orang <a title="Suku Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda">Sunda</a>, <a title="Suku Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa">Jawa</a>, <a title="Arab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arab">Arab</a>, <a title="Suku Bali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bali">Bali</a>, <a title="Suku Sumbawa (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Suku_Sumbawa&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sumbawa</a>, <a title="Suku Ambon (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Suku_Ambon&amp;action=edit&amp;redlink=1">Ambon</a>, <a title="Suku Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Melayu">Melayu</a> dan <a title="Suku Tionghoa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Tionghoa">Tionghoa</a>.</p>
<h2>Istilah Betawi</h2>
<p>Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a> dan <a title="Bahasa Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Melayu">bahasa Melayu</a> <a title="Kreol" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kreol">Kreol</a> yang digunakannya, dan juga kebudayaan <a title="Melayu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Melayu">Melayunya</a>. Kata Betawi sebenarnya berasal dari kata &#8220;<a title="Batavia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batavia">Batavia</a>,&#8221; yaitu nama kuno Jakarta yang diberikan oleh <a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a>.</p>
<h2>Sejarah</h2>
<p>Diawali oleh orang <a title="Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda">Sunda</a> (mayoritas), sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam <a title="Kerajaan Tarumanegara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Tarumanegara">Kerajaan Tarumanegara</a> serta kemudian Pakuan <a title="Pajajaran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pajajaran">Pajajaran</a>. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara <a title="Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa">Jawa</a>, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari <a title="Malaka" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Malaka">Malaka</a> di semenanjung Malaya, bahkan dari <a title="Tiongkok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tiongkok">Tiongkok</a> serta <a title="Gujarat" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gujarat">Gujarat</a> di <a title="India" href="http://id.wikipedia.org/wiki/India">India</a>.</p>
<p>Antropolog <a title="Universitas Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Indonesia">Universitas Indonesia</a>, <a title="Yasmine Zaki Shahab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Yasmine_Zaki_Shahab">Dr. Yasmine Zaki Shahab, MA</a> memperkirakan, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun <a title="1815" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1815">1815</a>-<a title="1893" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1893">1893</a>. Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, <a title="Lance Castle (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Lance_Castle&amp;action=edit&amp;redlink=1">Lance Castle</a>. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, yang dibuat berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun <a title="1615" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1615">1615</a> dan <a title="1815" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1815">1815</a>, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.</p>
<p><a title="Rumah Bugis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rumah_Bugis&amp;action=edit&amp;redlink=1">Rumah Bugis</a> di bagian utara Jl. Mangga Dua di daerah <a title="Kampung Bugis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kampung_Bugis&amp;action=edit&amp;redlink=1">kampung Bugis</a> yang dimulai pada tahun <a title="1690" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1690">1690</a>. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota. Hasil sensus tahun <a title="1893" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1893">1893</a> menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan <a title="Moor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Moor">Moor</a>, orang Jawa dan Sunda, orang <a title="Sulawesi Selatan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sulawesi_Selatan">Sulawesi Selatan</a>, orang <a title="Sumbawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sumbawa">Sumbawa</a>, orang <a title="Pulau Ambon" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Ambon">Ambon</a> dan <a title="Banda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Banda">Banda</a>, dan orang Melayu.</p>
<h3>Suku Betawi</h3>
<p>Pada tahun <a title="1930" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1930">1930</a>, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk <a title="Batavia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batavia">Batavia</a> waktu itu.</p>
<p><a title="Antropologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Antropologi">Antropolog</a> Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr <a title="Parsudi Suparlan (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Parsudi_Suparlan&amp;action=edit&amp;redlink=1">Parsudi Suparlan</a> menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang <a title="Kemayoran" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kemayoran">Kemayoran</a>, orang <a title="Senen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Senen">Senen</a>, atau orang <a title="Rawabelong (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rawabelong&amp;action=edit&amp;redlink=1">Rawabelong</a>.</p>
<p>Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni <a title="Hindia Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia_Belanda">Hindia Belanda</a>, baru muncul pada tahun <a title="1923" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1923">1923</a>, saat <a title="Husni Thamrin (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Husni_Thamrin&amp;action=edit&amp;redlink=1">Husni Thamrin</a>, tokoh masyarakat Betawi mendirikan <a title="Perkoempoelan Kaoem Betawi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perkoempoelan_Kaoem_Betawi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Perkoempoelan Kaoem Betawi</a>. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.</p>
<p>Ada juga yang berpendapat bahwa orang Betawi tidak hanya mencakup masyarakat campuran dalam benteng Batavia yang dibangun oleh Belanda tapi juga mencakup penduduk di luar benteng tersebut yang disebut masyarakat proto Betawi. Penduduk lokal di luar benteng Batavia tersebut sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional. Hal ini terjadi karena pada abad ke-6, kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan <a title="Tarumanagara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tarumanagara">Tarumanagara</a> yang terletak di bagian utara Jakarta sehingga pengaruh bahasa Melayu sangat kuat disini.</p>
<p>Selain itu, perjanjian antara Surawisesa (raja Kerajaan Sunda) dengan bangsa Portugis pada tahun 1512 yang membolehkan Portugis untuk membangun suatu komunitas di Sunda Kalapa mengakibatkan perkawinan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa Portugis yang menurunkan darah campuran Portugis. Dari komunitas ini lahir musik keroncong.</p>
<h3>Setelah kemerdekaan</h3>
<p>Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a> dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi — dalam arti apapun juga — tinggal sebagai minoritas. Pada tahun <a title="1961" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1961">1961</a>, &#8216;suku&#8217; Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur atau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.</p>
<h2>Bahasa</h2>
<p>Sifat campur-aduk dalam <a title="Dialek" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek">dialek</a> <a title="Bahasa Betawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Betawi">Betawi</a> adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.</p>
<p>Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar <a title="Batavia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Batavia">Batavia</a> juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.</p>
<p>Karena perbedaan bahasa yang digunakan tersebut maka pada awal <a title="Abad ke-20" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-20">abad ke-20</a>, Belanda menganggap orang yang tinggal di sekitar Batavia sebagai etnis yang berbeda dengan etnis <a title="Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda">Sunda</a> dan menyebutnya sebagai etnis <a title="Betawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Betawi">Betawi</a> (kata turunan dari Batavia). Walau demikian, masih banyak nama daerah dan nama sungai yang masih tetap dipertahankan dalam <a title="Bahasa Sunda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda">bahasa Sunda</a> seperti kata Ancol, Pancoran, Cilandak, Ciliwung, Cideng (yang berasal dari Cihideung dan kemudian berubah menjadi Cideung dan tearkhir menjadi Cideng), dan lain-lain yang masih sesuai dengan penamaan yang digambarkan dalam naskah kuno <a title="Bujangga Manik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik">Bujangga Manik</a><sup><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi#cite_note-0">[1]</a></sup> yang saat ini disimpan di perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris.</p>
<p>Meskipun bahasa formal yang digunakan di Jakarta adalah <a title="Bahasa Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia">Bahasa Indonesia</a>, bahasa informal atau bahasa percakapan sehari-hari adalah Bahasa Indonesia dialek <a title="Betawi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Betawi">Betawi</a>.</p>
<h2>Seni dan kebudayaan</h2>
<p>Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni <a title="Gambang Kromong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gambang_Kromong">Gambang Kromong</a> yang berasal dari seni musik <a title="Tionghoa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa">Tionghoa</a>, tetapi juga ada <a title="Rebana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rebana">Rebana</a> yang berakar pada tradisi musik <a title="Bangsa Arab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab">Arab</a>, <a title="Keroncong Tugu (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong_Tugu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Keroncong Tugu</a> dengan latar belakang <a title="Portugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugis">Portugis</a>-Arab,dan <a title="Tanjidor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanjidor">Tanjidor</a> yang berlatarbelakang ke-<a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a>-an. Saat ini Suku Betawi terkenal dengan seni <a title="Lenong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lenong">Lenong</a>, <a title="Gambang Kromong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gambang_Kromong">Gambang Kromong</a>, <a title="Rebana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rebana">Rebana</a> <a title="Tanjidor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanjidor">Tanjidor</a> dan <a title="Keroncong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Keroncong">Keroncong</a>.</p>
<p>Sifat campur-aduk dalam <a title="Dialek" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek">dialek</a> Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Dalam bidang kesenian, misalnya, orang Betawi memiliki seni <a title="Gambang Kromong" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gambang_Kromong">Gambang Kromong</a> yang berasal dari seni musik <a title="Tiongkok" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tiongkok">Tiongkok</a>, tetapi juga ada <a title="Rebana" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rebana">Rebana</a> yang berakar pada tradisi musik <a title="Bangsa Arab" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bangsa_Arab">Arab</a>, <a title="Keroncong Tugu (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Keroncong_Tugu&amp;action=edit&amp;redlink=1">Keroncong Tugu</a> dengan latar belakang <a title="Portugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugis">Portugis</a>-Arab,dan <a title="Tanjidor" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tanjidor">Tanjidor</a> yang berlatarbelakang ke-<a title="Belanda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda">Belanda</a>-an.</p>
<p>Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai <strong>orang Betawi</strong> adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.</p>
<h2>Kepercayaan</h2>
<p>Orang Betawi sebagian besar menganut agama <a title="Islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam">Islam</a>, tetapi yang menganut agama <a title="Kristen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen">Kristen</a>; <a title="Protestan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protestan">Protestan</a> dan <a title="Katholik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Katholik">Katholik</a> juga ada namun hanya sedikit sekali. Di antara suku Betawi yang beragama Kristen, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah keturunan campuran antara penduduk lokal dengan bangsa <a title="Portugis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Portugis">Portugis</a>. Hal ini wajar karena pada awal abad ke-16, Surawisesa, raja Sunda mengadakan perjanjian dengan Portugis yang membolehkan Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan <a title="Sunda Kalapa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kalapa">Sunda Kalapa</a> sehingga terbentuk komunitas Portugis di Sunda Kalapa. Komunitas Portugis ini sekarang masih ada dan menetap di daerah <a title="Kampung Tugu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kampung_Tugu">Kampung Tugu</a>, <a title="Jakarta Utara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Utara">Jakarta Utara</a>.</p>
<h2>Profesi</h2>
<p>Di <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a>, orang Betawi sebelum era pembangunan orde baru, terbagi atas beberapa profesi menurut lingkup wilayah (kampung) mereka masing-masing. Semisal di kampung Kemanggisan dan sekitaran Rawabelong banyak dijumpai para petani kembang (anggrek, kemboja jepang, dan lain-lain). Dan secara umum banyak menjadi guru, pengajar, dan pendidik semisal K.H. Djunaedi, K.H. Suit, dll. Profesi pedagang, pembatik juga banyak dilakoni oleh kaum betawi. Petani dan pekebun juga umum dilakoni oleh warga Kemanggisan.</p>
<p>Kampung yang sekarang lebih dikenal dengan Kuningan adalah tempat para peternak sapi perah. Kampung Kemandoran di mana tanah tidak sesubur Kemanggisan. Mandor, bek, jagoan silat banyak di jumpai disana semisal Ji&#8217;ih teman seperjuangan Pitung dari Rawabelong. Di kampung Paseban banyak warga adalah kaum pekerja kantoran sejak zaman Belanda dulu, meski kemampuan pencak silat mereka juga tidak diragukan. Guru, pengajar, ustadz, dan profesi pedagang eceran juga kerap dilakoni.</p>
<p>Warga Tebet aslinya adalah orang-orang Betawi gusuran Senayan, karena saat itu Ganefonya Bung Karno menyebabkan warga Betawi eksodus ke Tebet dan sekitarnya untuk &#8220;terpaksa&#8221; memuluskan pembuatan kompleks olahraga Gelora Bung Karno yang kita kenal sekarang ini. Karena asal-muasal bentukan etnis mereka adalah multikultur (orang Nusantara, Tionghoa, India, Arab, Belanda, Portugis, dan lain-lain), profesi masing-masing kaum disesuaikan pada cara pandang bentukan etnis dan bauran etnis dasar masing-masing.</p>
<h2>Perilaku dan sifat</h2>
<p>Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, <a title="Benyamin Sueb" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb">Benyamin Sueb</a>, dan Fauzi Bowo yang menjadi <a title="Gubernur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Gubernur">Gubernur</a> Jakarta saat ini .</p>
<p>Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun terkadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.</p>
<p>Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.</p>
<p>Memang tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan sebagian besar masyarakat Betawi masa kini agak terpinggirkan oleh modernisasi di lahan lahirnya sendiri (baca : Jakarta). Namun tetap ada optimisme dari masyarakat Betawi generasi mendatang yang justru akan menopang modernisasi tersebut.</p>
<h2>Tokoh Betawi</h2>
<p><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Benyamin_sueb_1.jpg"></a></p>
<p><a title="Perbesar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Benyamin_sueb_1.jpg"></a></p>
<p><a title="Benyamin Sueb" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb">Benyamin Sueb</a>, seniman Betawi legendaris.</p>
<ul>
<li><a title="Muhammad Husni Thamrin" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Husni_Thamrin">Muhammad Husni Thamrin</a> &#8211; pahlawan      nasional</li>
<li><a title="Ismail Marzuki" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki">Ismail      Marzuki</a> &#8211; pahlawan nasional, seniman</li>
<li><a title="Ridwan Saidi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ridwan_Saidi">Ridwan      Saidi</a> &#8211; budayawan, politisi</li>
<li><a title="Bokir" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bokir">Bokir</a> &#8211; seniman lenong</li>
<li><a title="Nasir (seniman lenong)" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nasir_%28seniman_lenong%29">Nasir</a> &#8211; seniman lenong</li>
<li><a title="Benyamin Sueb" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Benyamin_Sueb">Benyamin      Sueb</a> &#8211; artis</li>
<li><a title="Nazar Ali (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Nazar_Ali&amp;action=edit&amp;redlink=1">Nazar Ali</a> &#8211; artis</li>
<li><a title="Mandra" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mandra">Mandra</a> &#8211; artis</li>
<li><a title="Omaswati" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Omaswati">Omaswati</a> &#8211; artis</li>
<li><a title="Mastur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mastur">Mastur</a> &#8211; artis</li>
<li><a title="Mat Solar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mat_Solar">Mat      Solar</a> &#8211; artis</li>
<li><a title="Fauzi Bowo" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fauzi_Bowo">Fauzi      Bowo</a> &#8211; pejabat pemerintahan</li>
<li><a title="K.H. Noerali" href="http://id.wikipedia.org/wiki/K.H._Noerali">K.H.      Noerali</a> &#8211; pahlawan nasional, ulama</li>
<li><a title="SM Ardan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/SM_Ardan">SM Ardan</a> &#8211; sastrawan</li>
<li><a title="Mahbub Djunaidi (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Mahbub_Djunaidi&amp;action=edit&amp;redlink=1">Mahbub Djunaidi</a> &#8211;      sastrawan</li>
<li><a title="Firman Muntaco" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Firman_Muntaco">Firman      Muntaco</a> &#8211; sastrawan</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mahfuzoh.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mahfuzoh.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mahfuzoh.wordpress.com&amp;blog=13208429&amp;post=3&amp;subd=mahfuzoh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahfuzoh.wordpress.com/2010/04/19/suku-betawi-adalah-suku-daku-loh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6010a788704e611efd49444cf3dcf9c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mahfuzoh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://mahfuzoh.wordpress.com/2010/04/19/hello-world/</link>
		<comments>http://mahfuzoh.wordpress.com/2010/04/19/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 07:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mahfuzoh</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mahfuzoh.wordpress.com&amp;blog=13208429&amp;post=1&amp;subd=mahfuzoh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mahfuzoh.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mahfuzoh.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mahfuzoh.wordpress.com&amp;blog=13208429&amp;post=1&amp;subd=mahfuzoh&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mahfuzoh.wordpress.com/2010/04/19/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6010a788704e611efd49444cf3dcf9c7?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mahfuzoh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
